Mountain View – Pernah menggunakan layanan Google Street View? Pasti Anda melihat jika foto wajah orang-orang yang ‘masuk kamera’ ataupun nomor pelat kendaraan diburamkan. Nah, itu bukan kesalahan teknis, tapi memang sengaja dilakukan Google untuk menjaga privasi.

Isu soal privasi ini pula yang menjadi pembahasan dalam obrolan singkat antara Jen Fitzpatrick, Vice President of Maps Products Google, dengan sejumlah media asal Indonesia — termasuk detikINET — saat mengunjungi markas besar Google di Mountain View, California, Amerika Serikat, Selasa (26/10/2015).

Harus diakui, Google Maps memang menarik dan bertabur fitur canggih. Tetapi tak bisa ditampik pula jika teknologi sulit untuk dibuat sempurna. Hal ini pula yang terjadi pada Google Maps.

Layanan peta digital itu beberapa kali pernah mendapat batu sandungan dari masyarakat lantaran pelanggaran privasi. Di Jepang misalnya, warga setempat protes gara-gara pemasangan kamera Google yang dinilai terlalu tinggi.

Akibatnya, kamera tersebut memungkinkan Google ‘menerobos’ seluruh celah dalam kamar-kamar pribadi yang tentu saja tidak semuanya berkenan dengan itu.

Ada lagi kasus serupa di Montreal, Kanada, dimana seorang perempuan bernama Maria Pia Grillo, menganggap Google melanggar privasi karena mempublikasikan fotonya yang tengah duduk di halaman rumahnya di Google Street View. Dan beberapa kasus lainnya.

Jen Fitzpatrick, bos besar Google Maps menegaskan jika Google akan selalu mengikuti aturan yang berlaku saat ingin mengekspansi suatu wilayah dengan layanan peta digitalnya.

“Google Maps fokus untuk meng-cover area publik. Jadi seperti Google Street View, Anda bisa melihat rekamannya untuk layanan dan area publik, dan kami selalu patuh dengan aturan setempat,” tegasnya.

Prinisip ini pula yang selalu dipegang teguh saat armada Google Maps menyambangi suatu area. Dimana yang pertama mereka lakukan di antaranya adalah bekerja sama dengan pemerintah atau petugas berwajib setempat untuk mengetahui aturan yang berlaku.

“Di sini kami mencari soal isu keamanan atau ada daerah terbatas (terlarang) sehingga kami bisa comply dengan aturan tersebut. Dan jika ada masalah, kita bisa melakukan review untk patuh hukum,” lanjut Jen.

Jalanan Sampai Puncak Gunung

Untuk meng-cover area demi melengkapi ‘perpustakaan’ peta digital Street View pun Google sudah menyiapkan armada agar bisa masuk mulai dari jalanan perkotaan sampai puncak gunung.

“Street View bisa ke mana saja, tak melulu menggunakan mobil. Ada juga tracker backpack untuk bisa sampai ke puncak gunung. Kami baru saja melakukan ekspedisi ke pegunungan Yosemite, menggunakan tracker backpack,” ungkap Jen.

“Kita berusaha untuk mencitrakan dunia sehingga banyak orang yang dapat melihatnya, jika mereka tak bisa mendatanginya secara langsung,” lanjutnya.

Jen pun optimistis jika pengguna Google Maps yang saat ini sudah menembus angka miliaran bakal bertambah miliaran lagi. Booming smartphone yang sudah bukan lagi barang mewah jadi salah satu alasan keyakinan tersebut.

“Ini (merakyatnya ponsel-red.) sangat membantu pengguna yang baru online (menggunakan internet-red.). Termasuk mendorong komunitas dan pebisnis lokal untuk go digital, dan membantu mereka untuk mendapatkan informasi,” tutupnya.

(ash/fyk)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here