Merdeka.com – Bank Indonesia (BI) mencatat proses pemulihan ekonomi Indonesia terus berlanjut pada triwulan II-2017 meskipun tidak sekuat perkiraan semula. Hal ini dikarenakan tingkat konsumsi masyarakat yang melemah seiring dengan melambatnya pertumbuhan penjualan ritel.

“Kenapa konsumsi rendah karena angka ritel sales hanya 6,7 persen tumbuh dan Juni lalu turun. Tahun lalu 8 persen pada periode yang sama tahun lalu. Bulan Juni 3-4 persen. Semester pertama 3,6-3,8 persen,” kata Asisten Gubernur Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter, Dodi Budi Waluyo di Jakarta, Kamis (20/7) malam.

Direktur Departemen Komunikasi, Arbonas Hutabarat menambahkan, meski neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus sebesar USD 3,5 miliar, namun kinerja ekspor tetap tumbuh meskipun lebih rendah dari perkiraan semula. Terutama dipengaruhi oleh perlambatan pertumbuhan volume ekspor produk primer dan manufaktur.

Ekspor nonmigas tumbuh 6,8 persen (year-on-year), khususnya karena peningkatan harga komoditas primer. Sementara impor non migas tumbuh 4,9 persen (year-on-year), khususnya impor barang konsumsi.

Sebaliknya, investasi tumbuh lebih baik terutama non-bangunan ditopang investasi terkait sumber daya alam, di tengah investasi bangunan yang masih cukup baik terkait dengan proyek infrastruktur Pemerintah dan sektor konstruksi swasta. Di mana aliran masuk modal asing ke pasar keuangan Indonesia pada triwulan II-2017 tercatat USD 4,3 miliar, sehingga akumulasi sampai dengan Juni 2017 mencapai USD 9,6 miliar.

Posisi cadangan devisa pada akhir triwulan II-2017 tercatat USD 123,1 miliar, meningkat dari posisi akhir triwulan I-2017 sebesar USD 121,8 miliar. Jumlah cadangan devisa tersebut cukup untuk membiayai 8,9 bulan impor atau 8,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

Ke depan, pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan membaik ditopang oleh peningkatan kinerja ekspor dan investasi. Dengan perbaikan pada paruh kedua 2017, Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan 2017 masih dalam kisaran 5,0-5,4 persen.

“Sejumlah risiko yang dapat berdampak pada prospek pertumbuhan ekonomi perlu tetap diwaspadai, terutama terkait dengan belum kuatnya permintaan domestik sejalan dengan masih berlanjutnya proses konsolidasi korporasi dan perbankan,” imbuh Arbonas.

[idr]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here