TEMPO.CO, JakartaJerapah memiliki tinggi sekitar 14 sampai 19 kaki (426 sampai 579 sentimeter). Padahal objek-objek tinggi diketahui lebih rentan untuk kena sambaran petir. Jadi, apakah jerapah lebih sering terkena sambaran petir dibanding binatang lainnya?

Barangkali benar, namun angkanya tidak bisa secara penuh mendukung premis tersebut. Darren Naish, seorang ahli hewan, mengakui di Scientific American bahwa “Dari tahun 1996 sampai 1999, cagar alam Badak dan Singa dekat Krugersdorp, Afrika Selatan, melihat kematian dua dari tiga jerapah akibat sambaran listrik — binatang ketiga (masih muda) juga tersambar, namun hidup.”

Riset yang paling mumpuni menjawab pertanyaan tersebut ditulis oleh insinyur listrik Chandima Gomes dari Universiti Putra Malaysia di tahun 2011. Dalam penelitianya, ia menulis bahwa jerapah lebih rentan untuk mati akibat serangan petir karena aliran listrik lebih mudah menyusuri organ-organ vital dari jerapah akibat “perbedaan jauh antara kaki-kaki bagian depan dan belakang.”

Gomes juga menulis bahwa semakin mudahnya kontak terhadap benda seperti kayu, semakin rentannya juga binatang terkena sambaran petir.

Secara umum para ilmuwan menyimpulkan, masih sulit untuk mengetahui secara pasti apakah jerapah lebih riskan terkena sambaran petir dari hewan lainnya. Alasan utamanya adalah karena sambaran petir dinilai masih sangat langka.

LIVE SCIENCE | STANLEY WIDIANTO | NS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here