REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG — Belajar sejarah, ternyata tak hanya bisa dengan membaca buku sejarah. Namun, belajar sejarah bisa menjadi sangat menyenenangkan hanya dengan menelusuri prangko. Inilah, salah satu keuntungan yang bisa dimiliki oleh si pemilik hobi mengumpulkan prangko dan benda pos lainnya atau disebut filateli.

Bagi banyak orang, memang tak mudah bagi seseorang untuk bisa mendapatkan koleksi prangko yang memiliki nilai sejarah penting perjalanan sebuah bangsa. Selain karena menjadi saksi perjuangan kemerdekaan, benda tersebut akan sulit didapat karena usianya memang sudah terlampau jauh.

Namun, salah satu filatelis terbaik bangsa ini bernama Yan Wiriadi Jodana, bisa meraih medali emas kompetisi filateli tingkat dunia pada Oktober 2016 di Taipei, Taiwan. Karena, koleksi filatelinya yang langka dan bisa menggambarkan sejarah bangsa Indonesia.

Sejumlah koleksi prangko yang dimilikinya, merekam sejarah yang diambil sebulan setelah Republik Indonesia mendeklarasikan merdeka tepatnya September 1945. Hal itu, terlihat jelas dalam kartu pos yang masih ada bukti sensor yang dilakukan Jepang setelah sekutu menyerah.

“Saya bisa belajar sejarah dari hobi filatelis ini,” ujar Yan kepada wartawan, Selasa (25/7).

Menurut Yan, dari benda pos koleksinya bisa dilihat juga bahwa pasca Indonesia merdeka, Pos Indonesia belum bisa memproduksi sendiri benda pos. Tapi, masih menggunakan warisan Belanda dan Jepang. “Caranya dengan cara ditindih dengan identitas Indonesia pakai tulisan tangan,” katanya.

Tak hanya itu, kata dia, ia pun memiliki kartu pos yang menggunakan prangko tiga negara. Yakni,Jepang, Belanda dan Indonesia. Dilihat dari tanggal yang tertera dalam kartu pos itu, tertera 1946.

Bahkan, kata dia, keberadaan Pos Indonesia telah beberapa kali mengalami perubahan status mulai dari Jawatan PTT (Post, Telegraph dan Telephone). Badan usaha yang dipimpin oleh seorang Kepala Jawatan ini operasinya tidak bersifat komersial dan fungsinya lebih diarahkan untuk mengadakan pelayanan publik dan dinilai strategis.

“Pos dianggap penting karena menguasai jalur komunikasi warga pribumi dan penguasa saat itu,” katanya.

Saat pos dikuasai bangsa sendiri, kata dia, maka pemerintah Indonesia mulai mencetak prangko dengan desain khas pribumi dengan tulisan Merdeka dan Tetap Merdeka. “Ini terjadi setelah dikumpulkannya seluruh pos dan diinstruksikan menjaga semangat perjuangan,” katanya.

Namun, kata dia, di akhir 1945, Belanda kembali lagi dan terjadi kerusuhan di banyak daerah. Saat itu, pos tidak bisa bekerja seperti biasa dengan cara menyetempel prangko yang dikirim melainkan dengan cara disilang. Pada 1946, ketika pos di Surabaya dikuasai tentara sekutu yang diwakili Inggris terlihat jelas betapa nenek moyang kita saat itu tidak bisa berkomunikasi dengan kerabatnya. Karena, kartu pos tidak bisa dikirimkan dan terpaksa dikembali lagi ke pengirimnya.

Sejarah pun mencatat, kata dia, Kantor Pos pertama didirikan di Batavia (sekarang Jakarta) oleh Gubernur Jenderal G W Baron van Imhoff dengan tujuan untuk lebih menjamin keamanan surat-surat penduduk. Terutama, bagi mereka yang berdagang dari kantor-kantor di luar Jawa dan bagi mereka yang datang dari dan pergi ke Negeri Belanda.

Setelah Kantor Pos Batavia didirikan, kata dia, maka empat tahun kemudian didirikan Kantor Pos Semarang untuk mengadakan perhubungan pos yang teratur antara kedua tempat itu dan untuk mempercepat pengirimannya. Rute perjalanan pos kala itu ialah melalui Karawang, Cirebon dan Pekalongan.

“Ini semua, bisa kita lihat perjalannya di prangko yang saya kumpulkan. Karena dianggap menarik, jadi saya mendapatkan penghargaan medali emas,” katanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here