CANBERRAAustralia diam-diam menguji coba penerbangan rudal hypervelocityHIFiRE dengan dalih sebagai antisipasi ancaman di masa depan. Rudal ini diklaim mampu melesat 10.000km/jam, membakar setiap objek di langit dan masih bisa berubah arah.

Setiap rudal—atau pun pesawat terbang—yang mampu bergerak dengan kecepatan seperti itu akan telah hilang sebelum sistem pertahanan bisa bereaksi.
China dan Rusia selama ini juga mengklaim membuat kemajuan serupa. Teknologi rudal hypervelocity Australia disempurnakan melalui kerja sama dengan Amerika Serikat (AS).

Menteri Pertahanan Australia Marise Payne dalam situs Kementerian Pertahanan Australia tertanggal 10 Juli 2017, yang dikutip SINDOnews Senin (17/7/2017), mengatakan bahwa uji coba rudal hypervelocity Hypersonic International Flight Research Experimentation (HIFiRE) berhasil dilakukan di langit Kota Woomera, Australia selatan.

Proyek rudal superkilat ini senilai AUSD54 juta atau lebih dari Rp561 miliar.
Menurut definisi, kecepatan hipersonik berada di atas Mach 5 (lima kali kecepatan suara) atau 6174km/jam.

”Penerbangan hipersonik lebih dari lima kali kecepatan suara dan berpotensi merevolusi perjalanan udara, membuatnya lebih cepat dan lebih murah untuk melakukan perjalanan keliling dunia dan ke luar angkasa,” kata Payne.

”Ada aplikasi militer utama dari teknologi ini dan dengan memahami penerbangan hipersonik, Angkatan Pertahanan Australia akan berada pada posisi yang lebih baik untuk menanggapi ancaman masa depan,” lanjut Payne.

Australia dan AS sejatinya telah bekerjasama untuk proyek penerbangan hypervelocityselama hampir satu dekade. Peluncuran pertama salah satu kendaraan hipersonik ini dilakukan pada tahun 2009 yang diikuti tes-tes berikutnya termasuk pada tahun 2012 dan 2016.

Kecepatan tertinggi yang pernah dilaporkan dalam uji coba penerbangan hypervelocitymencapai Mach 8 (9878km/jam).

”Sementara ini (HIFiRE 4) adalah yang terakhir dalam rangkaian HIFiRE, Australia tetap berada di puncak penelitian, pengujian dan evaluasi hipersonik, berkat kerja tim ilmuwan pertahanan, rekan industri dan akademis mereka yang berdedikasi,” imbuh Payne.

(mas)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here