RAKYAT.NET, Jakarta – Belanja online atau semakin populer bagi kalangan milenial di Indonesia, terlebih barang yang di tawarkan lebih beragam dengan harga bersaing dibandingkan di toko-toko pada umumnya.

Kemunculan startup baru pun semakin marak dan beberapa bahkan telah mendapat julukan sebagai “Unicorn” di Indonesia dengan memberikan kemudahan layanan seperti pemesanan tiket, pelyanan antar-jemput, hingga layanan finansial seperti Fintech.

Tapi banyak juga sejumlah keluhan dan laporan dari pada konsumen yang merasa dirugikan, bahkan tertipu. Dalam tiga tahun terakhir Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, atau YLKI telah menerima banyak pengaduan terkait produk digital, khususnya belanja online dan pinjaman online.

“Dalam setahun terakhir, khususnya 2018, pengaduan soal pinjaman online menggeser online shopping, seiring maraknya fintech,” kata Ketua YLKI Tulus Abadi.

Kata Tulus, pinjaman-pinjaman dari jasa keuangan online ini tidak ada bedanya dengan “rentenir online yang dilegalka pemerintah lewat OJK (Otoritas Jasa Keuangan).”

“OJK sepertinya membebaskan tata cara penagihan dan nilai bunga yang ditentukan antara pemberi pinjaman dan yang meminjam dan ini jadi penyebab masalah bagi konsumen.”

Pinjaman yang memakan korban

Bulan Februari lalu, seorang sopir taksi berusia 35 tahun ditemukan gantung diri di kawasan Mampang, Jakarta Selatan. Dia diduga mengakhiri hidupnya akibat terlilit hutang dari pinjaman online.