Jakarta (ANTARA News) – Anak lebih berisiko mengalami alergi dibanding orang yang lebih tua berdasarkan World Allergy Organization.

Data dari Allergy & Asthma Foundation of America menyatakan bahwa alergi protein susu sapi merupakan salah satu alergi makanan yang paling banyak terjadi pada anak-anak.

Gejala akibat alergi susu sapi ini dapat menyerang sistem gastrointestinal (50-60 persen), kulit (50-60 persen) dan sistem pernapasan (20-30 persen). Reaksi alergi dapat timbul berupa eksim pada kulit, mengi pada saluran napas, kolik, diare berdarah, hingga konstipasi.

Konsultan Alergi Imunologi Anak Budi Setiabudiawan menjelaskan ada berbagai macam gangguan tumbuh kembang yang mungkin terjadi pada anak jika alerginya tidak tertangani dengan baik.

“Anak bisa tumbuh menjadi picky eaters sehingga mempengaruhi berat badan ideal dan juga pertumbuhan fisiknya. Gangguan hormon akibat alergi juga berisiko memunculkan kegemukan atau obesitas, yang jika tidak dikendalikan akan meningkatkan risiko penyakit jantung koroner dan diabetes di masa depan,” kata Budi dalam siaran pers dari Nutricia Sarihusada.

Dia melanjutkan, alergi protein susu sapi ini relatif lebih sulit ditangani karena alergen tidak selalu berbentuk susu, melainkan berbagai makanan olahan yang mengandung susu sapi.

Oleh sebab itu kondisi ini orangtua harus tanggap mencermati kandungan dalam berbagai makanan dan menangani reaksi alergi pada anak secara cepat.

Alergi ini pun berkaitan erat dengan aspek psikologis orangtua dan anak. Anak bisa merasa dibatasi dalam memilih makanan dan merasa berbeda dengan teman-teman seusia. Hal ini dapat menyebabkan stres pada anak, terutama saat ia harus mengambil keputusan sendiri tentang makanan yang boleh atau tidak boleh dimakan.

“Jika orangtua tidak menangani alergi protein susu sapi pada si Kecil dengan tepat, maka si kecil bisa tumbuh menjadi anak yang kaku, pencemas dan menghindari pergaulan,” kata psikolog anak dan keluarga, Anna Surti Ariani.

Risiko alergi pada anak makin besar bila ada riwayat penyakit atopik seperti dermatitis atopik, asma, dan atau rhinitis alergi dari setidaknya salah satu orangtua atau saudara kandung. Selain faktor genetik, beberapa anak juga lebih berisiko mengalami alergi jika dilahirkan melalui operasi caesar, penggunaan antibiotik saat persalinan, hingga terpapar asap rokok.

Nutricia Sarihusada meluncurkan kampanye Bunda Tanggap Alergi dengan 3K, Kenali risiko dan gejala alergi anak, Konsultasikan ke dokter agar anak dapat penanganan tepat serta Kendalikan penyebab alergi dengan asupan nutrisi tepat.

Editor: Unggul Tri Ratomo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here