RAKYAT.NET, Jakarta – Kaca pesawat terbang dirancang tidak bisa dibuka. Inilah alasan teknis yang perlu kita tahu.

Dilansir dari Scientific American, gravitasi cenderung menjaga agar molekul udara terkonsentrasi di dekat tanah, sehingga atmosfer kian menipis saat Anda semakin naik.

Udara menjadi sangat tipis di ketinggian sekitar 10.000 kaki (3.000 meter). Sehingga, kabin pesawat harus diberi tekanan udara saat berada di atas ketinggian tersebut, agar para penumpang tak mengalami hipoksia atau kekurangan oksigen.

Karena temperatur dan tekanan seiring dan selaras (dalam tekanan rendah udara terasa dingin), tekanan udara dibutuhkan untuk menjaga agar kabin tetap hangat.

Pada ketinggian 35.000 kaki atau 11.000 meter, ketinggian jelajah pesawat komersial, tekanan udara turun hingga kurang dari seperempat dari yang ada di level permukaan laut, sementara suhu udara di luar pesawat anjlok menjadi -60 derajat Fahrenheit (-51 derajat Celcius, demikian menurut The Engineering Toolbox.

Jika terekspose kondisi ekstrem semacam itu, manusia bisa tewas seketika.

Proses pemberian tekanan (pressurization) di pesawat biasanya didapat dengan cara memompa kabin dengan ‘bleed air’ atau udara terkompresi yang diisap dan dipanaskan dipanaskan oleh mesin turbin kapal terbang.

Proses tersebut hanya bisa dilakukan dalam badan pesawat (fuselage) yang rapat.

Lantas, apa yang terjadi jika jendela pesawat dibuka di ketinggian?

Saat jendela terbuka, udara bertekanan di kabin akan keluar dengan cepat, kondisi atmosfer di dalam dan di luar kapal terbang setara. Akibatnya, semua orang yang ada di sana berisiko tewas.

Singkatnya, justru akan bermasalah jika jendela pesawat bisa dibuka saat kapal terbang masih berada di ketinggian.

Sumber: Scientific American, liputan6.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here