RAKYAT.NET, Jakarta – Rupiah turun terhadap dolar dan menyentuh Rp 13.800,- Masyarakat dihimbau agar tidak panik. Seperti inilah penjelasan pemerintah tentang fluktuasi pergerakan rupiah.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo menjelaskan secara umum BI mencermati dan memperhatikan perkembangan nilai tukar rupiah setiap harinya. Dia mengungkapkan tahun lalu 2017 secara poin to poin terdepreasiasi 0,71%. Kemudian pada 2018 sejak 1 Januari – Maret terjadi depresiasi 1,5%.

“Jadi kami ingin sampaikan, ada depresiasi 1,5%. Ini karena perkembangan di eksternal yang menyebabkan tekanan pada nilai tukar hingga bisa di posisi Rp 13.700- Rp 13.750,” kata Agus di Gedung BI, Jakarta.

Agus menjelaskan depresiasi 1,5% merupakan kondisi yang wajar. Hal ini karena jika terjadi volatilitas dan fluktuasi nilai tukar BI akan melakukan intervensi agar nilai tukar tetap berada di batas yang stabil.

“Jadi kami sampaikan, kita tidak perlu khawatir karena kondisi Indonesia dalam keadaan baik. Kalau ada fluktuasi dan nilai tukar sampai menjauh dari fundamentalnya BI akan hadir di pasar,” kata dia.

Agus menjelaskan, kondisi tersebut sesuai dengan dinamika yang terjadi di global. Selain itu pernyataan Bank Sentral AS The Federal Reserve yang membuat pasar berspekulasi akan terjadi peningkatan bunga lebih dari tiga kali.

“Nah ini membuat dolar AS menguat, selain itu juga dampaknya mata uang negara lain tertekan,” ujarnya.

Menurut Agus jika nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ada penyesuaian merupakan bentuk komitmen dari BI bahwa nilai tukar bisa fleksibel. Ini akan dipertahankan untuk mencerminkan kondisi fundamental ekonomi Indonesia.

Dia menceritakan pada 2016 rupiah pernah menjadi mata uang terbaik kedua di dunia setelah Yen Jepang. Kemudian pada 2017 nilai tukar terdepresiasi 0,71% dan masih dianggap yang terbaik.

Sumber: detik.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here