RAKYAT.NET, Jakarta – Aditya Bagus Arfan, pecatur cilik usia 11 tahun dengan segudang prestasi. Aditya mencapai prestasi itu melalui sebuah proses panjang. Anak pertama dari dua bersaudara itu memulai kariernya sejak usia 4,5 tahun.

Tahun lalu, Aditya menjadi runner-up di Kejuaraan Asian School U-13 di China. Dia juga pernah menjadi juara di kejuaraan catur Penang International Challenger U-10 dan Kejuaraan ASEAN U-10 di Malaysia, pada 2016.

Kecintaannya kepada olahraga catur muncul saat melihat warga yang bermain catur di pos ronda. Kakeknya yang sedikit punya kemampuan bermain catur akhirnya diminta untuk mengajarinya dan dia pun langsung ketagihan.

“Pertama kali melihat catur rasanya seperti langsung klik. Soalnya serang menyerang begitu, strateginya juga ada. Meski awal-awal sulit sekali untuk mempelajarinya,” cerita Aditya.

Seiring berjalannya waktu, Aditya banyak belajar dari berbagai sumber. Tidak hanya dari buku, dia juga kerap otak-atik permainan catur di komputer dan menyaksikan turnamen catur di YouTube.

Ayahnya, Eka Prasaja, yang melihat keseriusan anaknya, membawa sang putra ke sekolah catur Utut Adianto di Bekasi. Di sana Adit kemudian berlatih hingga usia 10 tahun. Dia juga mengikuti sejumlah turnamen catur dari level bawah sampai tingkat nasional.

“Awal-awal saya kalah terus. Tapi kemudian saya belajar terus sampai akhirnya bisa mememangi beberapa turnamen,” katanya.

Aditya mengatakan, turnamen yang paling berkesan baginya adalah saat tampil di Olimpiade Children of Asia kelompok usia 16 tahun 2016. Kala itu, dia menjadi atlet termuda di usia 9 tahun.

“Di sana saya kalah terus tapi saya senang karena dapat ilmu dan pengalaman. Selain itu, ayah juga bilang jika saya harus terus semangat walau kalah,” ungkapnya.

Seiring kemampuannya bermain catur, Aditya akhirnya berhasil meraih kesuksesan. Dia menjuarai Kejuaraan Nasional U-9 pada 2013, kemudian dua tahun berikutnya menjuarai Kejurnas U-11. Begitu pada 2016, dia menjuarai festival catur pelajar U-11.

Selain level nasional, pada ajang Penang International Challenger U-10 2016 di Malaysia, pria kelahiran Bekasi, 31 Oktober 2006, juga berhasil menjadi juara pertama. Dan masih banyak sederet prestasi lainnya yang Aditya catat.

Namun sederet prestasi itu tak membuat Aditya lekas puas. Dia berambisi untuk meraih gelar grand master pada 2025. Tahun ini saja dia berharap bisa menjuarai World School Chess Championship di Durres, Albania, pada 20-29 April 2018.

Bersama pecatur muda lainnya, Novendra Priasmono (18 tahun), Aditya mendapat dukungan melalui program Inspiring Youth. Dukungan United Tractors berupa biaya untuk mengikuti turnamen-turnamen catur. Tidak hanya biaya transportasi, dia juga memperoleh biaya training dan pendidikan.

Apa yang ditdapat Aditya ini memang tak lepas dari dukungan keluarganya, terutama ayahnya. Selama ini ayahnya-lah yang kerap menemani dia selama turnamen dan menyemangati Aditya tatkala mengalami kekalahan.

“Saya secara pribadi karena melihat ada passion dari anaknya maka orang tua hanya mendukung saja. Ya semoga ini jalannya dia dan kami mendukung,” kata Eka.

Sumber: detik.com
Foto: adityabagusarfan.net

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here