Serang – Kementerian Perhubungan menutup salah satu perlintasan rel tanpa palang pintu di Kasemen, Kota Serang. Perlintasan tersebut dinilai berbahaya karena sering terjadi kecelakaan.

Direktur Keselamatan Perkeretapian Edi Nursalam mengatakan, khusus di Kota Serang ada 17 perlintasan tanpa tanpa palang pintu dan rambu peringatan. Akibatnya, masyarakat banyak yang menjadi korban kecelakaan karena tidak mendapatkan peringatan saat melintas.

“Kasihan masyarakat kita, lewat tanpa peringatan apa-apa. Mestinya pemerintah hadir di sini,” kata Edi saat melakukan peninjauan perlintasan rel di Kasemen, Kota Serang, Selasa (11/7/2017).

17 Perlintasan Kereta Api di Kota Serang Tanpa Palang PintuFoto: Direktur Keselamatan Perkeretapian Edi Nursalam di Serang (Bahtiar-detikcom)

Menurutnya, perlintasan-perlintasan tersebut sebetulnya menjadi tanggung jawab pemerintah kota. Karena Kementerian Perhubungan bertanggung jawab pada pemeliharaan rel.

“Ini tergantung status jalannya. Kalau nasional kita, kalau jalan provinsi gubernur, ini kan jalan kabupaten kota,” ucapnya lagi.

Karena banyak perlintasan yang kemudian dibangun jalan oleh kabupaten dan kota, Edi menjelaskan bahwa Kementerian Perhubungan banyak menemukan kendala ketika melakukan perawatan rel. Ada perlintasan yang diaspal padahal perlu dilakukan perawatan misalkan pemeliharaan fondasi dan bantalan rel.

Kementerian Perhubungan sendiri, mencatat ada total 5.800 perlintasan di seluruh Indonesia. Dan hanya sekitar 1.200 perlintasan yang baru memiliki palang pintu. Sisanya, sebanyak 3.600 perlintasan tanpa palang yang setiap hari memakan korban jiwa.

“Korban rata-rata lebih kurang satu sampai dua orang perhari yang melintas bukan hanya mobil, kemarin di Kendal 5 orang naik motor (kecelakaan),” tambahnya.
Edi juga menegaskan, Kementerian Perhubungan sudah sering berkirim surat ke pihak bupati atau wali kota agar memberikan rambu di perlintasan. Ia menilai, pihak pemerintah Kota Serang termasuk lalai memberikan peringatan rambu-rambu peringatan.

“Kota serang sama sekali (lalai). Kewajiban Pemda sama sekali satupun ndak di jalanan,”

“Sekarang kita tutup. Sebagai shock therapy kepada Pemda supaya nanti kita rapatkan supaya menjadi pembelajaran di masyarakat,” tegasnya lagi.

(bri/rvk)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here